Pages

Loading...
Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 22 September 2013

Laporan Iktiologi Identifikasi Ikan



ACARA 1
IDENTIFIKASI IKAN

 













Disusun oleh:
Kelompok  7
Much. Syafiq                          H1H012037
J.J Ardiansyah                         H1H012035
Mualifah                                  H1H012004
Muslikha                                 H1H012006
Novian Ajeng Isnaini              H1H012038




Asisten : Siti Ropiah

JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2013
I.                   MATERI DAN METODE
1.1              Materi
1.1.1.      Alat
Alat yang digunakan pada pratikum ini yaitu alat bedah, baki paraffin, buku kunci identifikasi, jarum penusuk, kamera, pensil, dan buku gambar.
1.1.2.      Bahan
Bahan yang digunakan pada pratikum ini yaitu ikan Kakap, ikan Tongkol, ikan Bandeng,ikan Nila, dan ikan Tawes.
1.2.            Metode
1.2.1.      Cara kerja
Ikan diletakkan di baki paraffin. Bagian sirip atas, sirip bawah, dan sirip ekor ditusuk dengan jarum penusuk, diusahakan sirip tidak sampai robek. Ikan dipotret lalu di gambar pada buku gambar. Kemudian dicocokkan dengan buku identifikasi.
          












II.                HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1. Hasil
Tabel. Hasil Identifikasi Ikan
No.
Gambar
Keterangan
1.



Ikan Kakap Merah
Kingdom       : Animalia
Filum             : Chordata
Class              : Pisces
Ordo              : Percomorphi
Famillia          : Lutjanidae
Genus            : Lutjanus
Species           : Lutjanus niger

2.


Ikan Nilem
Kingdom       : Animalia
Filum             : Chordata
Class              : Pisces
Ordo              : Ostariophysi
Famillia          : Cyprinidae
Genus            : Osteochilus
Species           : Osteochilus
  hasselti

3.
Ikan Bandeng
Kingdom       : Animalia
Filum             : Chordata
Class              : Pisces
Ordo              : Malacopterygii
Famillia          : Chanidae
Genus            : Chanos
Species           : Chanos chanos

4.

Ikan Tawes
Kingdom       : Animalia
Filum             : Chordata
Class              : Pisces
Ordo              : Ostariophysi
Famillia          : Cyprinidae
Genus            : Puntius
Species           : Puntius sp.
5.



Ikan Tongkol
Kingdom       : Animalia
Filum             : Chordata
Class              : Pisces
Ordo              : Percomorphi
Famillia          : Scromberidae
Genus            : Euthynnus
Species           : Euthynnus sp.


2.2. Pembahasan
Identifikasi (identification) adalah Proses penentuan identitas individu atau spesimen suatu takson dengan membanding- bandingkannya dengan contoh spesimen yang identitasnya sudah jelas. Identifikasi merupakan pengenalan dan deskripsi yang teliti dan tepat terhadap suatu jenis/spesies yang selanjutnya diberi nama ilmiahnya sehingga diakui oleh para ahli diseluruh dunia. Klasifikasi adalah suatu kegiatan pembentukan kelompok-kelompok makhluk hidup dengan cara memberi keseragaman ciri atau sifat di dalam keanekaragaman ciri yang ada pada makhluk hidup tersebut
(Novianto, 2010).
Pekerjaan mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomi individu yang beraneka ragam dan memasukannya dalam suatu takson. Identifikasi penting artinya ditinjau dari segi ilmiah, sebab seluruh pekerjaan berikutnya sangat tergantung dari hasil identifikasi yang benar dari suatu spesies yang sedang diteliti.Dalam melakukan identifikasi ikan, buku kunci identifikasi ikan mutlak diperlukan.Agar mudah dalammenggunakan buku kunci identifikasi, terlebih dahulu harus memahami istilah-istilah yang biasa digunakan dalam identifikasi. Identifikasi ikan didasarkan atas morfometrik dan meristik yang dilakukan sesuai dengan petunjuk identifikasi (Novianto, 2010).
Untuk mendukung pengetahuan tentang klasifikasi dan taksonomi diperlukan adanya identifikasi dari berbagai parameter morfologi dari bentuk tubuh ikan. Dengan melihat morfologi ikan kita dapat mengelompokkan ikan/hewan air. Sistem atau cara pengelompokan ini dikenal dengan istilah sistematika atau taksonomi (Gerald, 2003).

1.      Ikan Kakap Merah (Lutjanus niger)
Ikan Kakap Merah (Lutjanus niger) mempunyai tubuh yang memanjang dan melebar, gepeng atau lonjong, kepala cembung atau sedikit cekung. Jenis ikan ini umumnya bermulut lebar dan agak menjorok ke muka, gigi konikel pada taring-taringnya tersusun dalam satu atau dua baris dengan serangkaian gigi caninnya yang berada pada bagian depan (Juan, 2011).
Bagian bawah pra penutup insang bergerigi dengan ujung berbentuk tonjolan yang tajam. sirip punggung berjari-jari keras 11 dan lemah 14, sirip dubur berjari-jari keras 3 lemah 8-9. Sirip punggung umumnya berkesinambungan dan berlekuk pada bagian antara yang berduri keras dan bagian yang berduri lunak. Batas belakang ekornya agak cekung dengan kedua ujung sedikit tumpul (Juan, 2011).
Warna sangat bervariasi, mulai dari yang kemerahan, kekuningan, kelabu hingga kecoklatan. Ada yang mempunyai garis-garis berwarna gelap dan terkadang dijumpai adanya bercak kehitaman pada sisi tubuh sebelah atas tepat di bawah awal sirip punggung berjari lunak. Pada umumnya berukuran panjang antara 25–50 cm, walaupun tidak jarang mencapai 90 cm. Ikan kakap merah menerima berbagai informasi mengenai keadaan sekelilingnya melalui beberapa inderanya, seperti melalui indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, peraba, linea lateralis dan sebagainya (Juan, 2011).
Ikan kakap merah tergolong diecious yaitu ikan ini terpisah antara jantan dan betinanya. Hampir tidak dijumpai seksual dimorfisme atau beda nyata antara jenis jantan dan betina baik dalam hal struktur tubuh maupun dalam hal warna. Pola reproduksinya gonokorisme, yaitu setelah terjadi diferensiasi jenis kelamin, maka jenis seksnya akan berlangsung selama hidupnya, jantan sebagai jantan dan betina sebagai betina. Jenis ikan ini rata-rata mencapai tingkat pendewasaan pertama saat panjang tubuhnya telah mencapai 41–51% dari panjang tubuh total atau panjang tubuh maksimum. Jantan mengalami matang kelamin pada ukuran yang lebih kecil dari betinanya. Kelompok ikan yang siap memijah, biasanya terdiri dari sepuluh ekor atau lebih, akan muncul ke permukaan pada waktu senja atau malam hari di bulan Agustus dengan suhu air berkisar antara 22,2–25,2ÂșC. Ikan kakap jantan yang mengambil inisiatif berlangsungnya pemijahan yang diawali dengan menyentuh dan menggesek-gesekkan tubuh mereka pada salah seekor betinanya. Setelah itu baru ikan-ikan lain ikut bergabung, mereka berputar-putar membentuk spiral sambil melepas gamet sedikit di bawah permukaan air (Djamal R dan S. Marzuki, 1992).
Secara umum ikan kakap merah yang berukuran besar akan bertambah pula umur maksimumnya dibandingkan yang berukuran kecil. Ikan kakap merah yang berukuran besar akan mampu mencapai umur maksimum berkisar antara 15–20 tahun, umumnya menghuni perairan mulai dangkal hingga kedalaman 60–100 meter. Habitatnya di air laut. Ikan jenis ini hampir tersebar di lautan di dunia.  Konsentrasi kakap merah terpadat umumnya terdapat di lepas pantai hingga kedalaman 60 meter. Ikan Kakap Merah merupakan kingdom Animalia, phylum Chordata, class Pisces, subclasis Teleostei, ordo Perchomorphi, familia Lutjanidae, genus Lutjanus, dan species Lutjanus niger (Djamal R dan S. Marzuki, 1992).
Kunci identifikasi dari Ikan kakap merah adalah :
1A.      Rangkaian terdiri dari dari tulang besar, bertutup insang (subclasis Teleostei).
2A.      Sirip punggung dan dubur tidak panjang (ordo Perchomorphi).
4B.   Gigi biasanya runcing, terhambur merata, taring ada / tidak ada, seandainya gigi seperti gigi pelumat, maka / tutup insang depan tidak bersisik / D.X.10(II).A.III.9(10) (familia Lutjanidae).
11B. Mulut besar dapat disembulkan gigi pada tulang mata bajak dan langit–langit sempurna keeping tutup insang berlekuk, sirip ekor tegak atau berlekuk (genus Lutjanus).
23.    Species Lutjanus niger.
2. Ikan Nilem  (Osteoschilus hasselti)
Ikan nilem atau Silver Shark minnow  Familia Cyprinidae, Genus Osteochilus, Species Osteochilus hasselti (Val) mempunyai ciri morfologi  antara lain bentuk tubuh hampir serupa dengan ikan mas. Bedanya, kepala ikan nilem relatif lebih kecil. Pada sudut-sudut mulutnya, terdapat dua pasang sungut peraba. Warna tubuhnya hijau abu-abu. Sirip punggung memiliki 3 jari-jari keras dan 12-18 jari-jari lunak. Sirip ekor berbentuk cagak dan simetris. Sirip dubur disokong oleh 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak. Sirip perut disokong oleh 1 jari-jari keras dan 8 jari-jari lunak. Sirip dada terdiri dari 1 jari-jari keras dan 13-15 jari-jari lunak. Jumlah sisik pada gurat sisi ada 33-36 keping. Dekat sudut rahang atas ada 2 pasang sungut peraba.Ikan ini terdapat di Jawa, Sumatera dan Kalimantan, Malaysia, dan Thailand. Pada umumnya, ikan nilem dapat dipelihara pada daerah dengan ketinggian sekitar 150-800 m dpl (Navalda, 2010).
Ikan Nilem  merupakan kingdom Animalia, phylum Chordata, class Pisces, subclasis Teleostei, ordo Ostariophusi, familia Cyprinidae, genus Osteochilus, dan species Osteochilus hasselti.
Kunci identifikasi dari Ikan nilem adalah :
1A.     Rangkaian terdiri dari dari tulang besar, bertutup insang (subclasis Teleostei).
2D.     Bersisik atau tidak bersunggut dikeliling mulut (ordo Ostariophysi).
7C.   Duri tunggal atau berbelah mungkin ada dimuka atau dibawah mata,pinggir rongga   mata bebas atau tertutup kulit, mulut agak ke bawah; tidak pernah lebih dari 4 helai sunggut (familia Cyprinidae).
19A. Sirip punggung dengan 10 – 18 jari lemah bercabang (genus Osteochilus).
35.    Species Osteochilus hasselti.
3. Ikan Bandeng (Chanos chanos)
Ikan Bandeng (Chanos chanos) tubuh memanjang agak gepeng, mata tertutup lapisan lemak (adipase eyelid), pangkal sirip punggung dan dubur tertutup sisik, tipe sisik cycloid lunak, warna hitam kehijauan dan keperakan bagian sisi, terdapat sisik tambahanyang besar pada sirip dada dan sirip perut (Pjauhar, 2012).
Secara eksternal ikan bandeng mempunyai bentuk kepala mengecil dibandingkan lebar dan panjang badannya, matanya tertutup oleh selaput lendir (adipose). Sisik ikan banding yang masih hidup berwarna perak, mengkilap pada seluruh tubuhnya. Pada bagian punggungnya berwarna kehitaman atau hijau kekuningan atau kadang-kadang albino, dan bagian perutnya berwarna perak serta mempunyai sisik lateral dari bagian depan sampai sirip ekor. Pada ikan bandeng ukuran juvenil dan dewasa jumlah sirip dorsal II :12-14, anal II: 8 atau 9, sirip dada I: 15-16, sirip bawah I:10 atau 11 dan mempunyai sisik lateral dari bagian depan sampai caudal antara 75-85, dan tulang belakang berjumlah 44 ruas (Pjauhar, 2012).
Ikan bandeng memiliki ciri-ciri sebagai berikut, tubuh berbentuk torpedo, seluruh permukaan tubuhnya tertutup oleh sisik yang bertipe lingkaran yang berwarna keperakan, pada bagian tengah tubuh terdapat garis memanjang dari bagian penutup insang hingga ke ekor. Sirip dada dan sirip perut dilengkapi dengan sisik tambahan yang besar, sirip anus menghadap kebelakang. Selaput bening menutupi mata, mulutnya kecil dan tidak bergigi, terletak pada bagian depan kepala dan simetris. Ikan bandeng memiliki dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina, bandeng jantan dapat diiketahui dari lubang ansunya yang hanya dua buah dan ukuran badan agak kecil sedangkanbandeng betina memiliki lubang anus tiga buah dan ukuran badan lebih besar dari ikan bandeng jantan (Pjauhar, 2012).
Ikan bandeng hidup di Samudra Hindia dan menyeberanginya sampai Samudra Pasifik, mereka cenderung bergerombol di sekitar pesisir dan pulau-pulau dengan koral. Ikan yang muda dan baru menetas hidup di laut untuk 2 - 3 minggu, lalu berpindah ke rawa-rawa bakau, daerah payau, dan kadangkala danau-danau. Bandeng baru kembali ke laut kalau sudah dewasa danbisa berkembang biak.Penyebaran ikan bandeng ini yaitu meliputi seluruh perairan Indonesia utamanya di daerah Jawa dan Sulawesi Selatan serta beberapa perairan payau dan perairan tawar yaitu pada daerah Sumatera Barat, DKI dan DIY. Propinsi Jawa Timur Tahun 2000 tambak Jawa Timur tercatat seluas 53.423 ha atau 15% dari luas tambak di tanah air. Ikan bandeng adalah  ikan payau golongan teleostei karena ikan ini mempunyai tulang keras (sejati). Ikan bandeng adalah salah satu ikan catadromeous yaitu ikan yang melakukan perjalanan ke laut untuk bertelur dan memijah dilaut, maka dari itu ikan bandeng mempunyai kemampuan osmotic yang tinggi. Mereka hidup di Samudra Hindia dan menyeberanginya sampai Samudra Pasifik, mereka cenderung bergerombol di sekitar pesisir dan pulau-pulau dengan koral. Ikan yang muda dan baru menetas hidup di laut untuk 2 – 3 minggu, lalu berpindah ke rawa-rawa bakau, daerah payau, dan kadangkala danau-danau. Bandeng baru kembali ke laut kalau sudah dewasa dan bisa berkembang biak (Novianto, 2010).
Ikan Bandeng  merupakan kingdom Animalia, phylum Chordata, class Pisces, subclasis Teleostei, ordo Malacopterygii, familia Chanidae, genus Chanos, dan species Chanos chanos.
Kunci identifikasi dari Ikan bandeng adalah :
1A.   Rangkaian terdiri dari dari tulang besar, bertutup insang (subclasis Teleostei).
2B.   Besisik tidak bersungut, tidak berjari – jari keras pada sirip lengkung (ordo Malacopterygii).
5A.   Sirip dubur jauh dibelakang sirip punggung (familia Chanidae ).
13A. Sirip ekor panjang dan bercagak, keeping sebelah ke atas lebihpanjang (genus Chanos ).
26.    Species Chanos chanos.
4. Ikan Tawes (Puntius sp.)
Ikan Tawes (Puntius sp.) ikan yang berkembang biak di sungai dan rawa-rawa dengan lokasi yang disukai adalah perairan dengan air yang jernih dan terdapat aliran air, mengingat ikan ini memiliki sifat biologis yang membutuhkan banyak oksigen. Jika ditempatkan dalam air yang miskin oksigen ia dengan mudahnya mati (Abdul, 2012).
Ikan tawes merupakan salah satu ikan asli Indonesia. Ikan tawes dalam habitat aslinya adalah ikan yang berkembang biak di sungai, danau dan rawa – rawa dengan lokasi yang disukai adalah perairan dengan air yang jernih dan terdapat aliran air, mengingat ikan ini memiliki sifat biologis yang membutuhkan banyak oksigen dan hidup di perairan tawar dengan suhu tropis 22 – 28°C, serta pH 7. Ikan ini dapat ditemukan di dasar sungai mengalir pada kedalaman hingga lebih dari 15 m, rawa banjiran dan waduk. Ikan tawes adalah termasuk ikan herbivore atau pemakan tumbuhanIkan Tawes  merupakan kingdom Animalia, phylum Chordata, class Pisces, subclasis Teleostei, ordo Ostariophysi, familia Cyprinidae, genus Puntius dan species Puntius sp. (Abdul, 2010).
Kunci identifikasi dari Ikan bandeng adalah :
1A.   Rangkaian terdiri dari dari tulang besar, bertutup insang (subclasis Teleostei).
2D.   Besisik atau tidak bersunggut dikeliling mulut (ordo Ostariophysi).
7C.   Duri tunggal atau berbelah mungkin ada dimuka atau dibawah mata,pinggir rongga mata bebas atau tertutup kulit, mulut agak ke bawah; tidakpernah lebih dari 4 helai sunggut (familia Cyprinidae).
19C. Bibir bawah tidak terpisah dari rahang bawah yang tidak berkulittebal atauterpisah dari rahang bawah oleh turisan pada permukaan saja,hidung tidak berbintil –bintil keras (genus Puntius).
37.    Species Puntius sp.
5. Ikan Tongkol (Euthynnus sp.)
Karakter yang diamati pada ikan tongkol adalah sebagai berikut bentuk tubuh pipih tegak, tipe letak mulut terminal (ujung), tipe sirip ekor menggarpu, bentuk garis sisi (lateral line) lateral, warna dan corak tubuh: kepala berwarna abu-abu gelap, bagian perut berwarna abu-abu kehitaman, dan ekor berwarna abu-abu dengan bagian ujung kemerahan (Riki, 2010).
Karakteristik yang diukur adalah panjang standar 150 mm, panjang total 260 mm, panjang kepala 70 mm, tinggi badan 65 mm, panjang batang ekor 180 mm, tinggi batang ekor 120 mm, panjang moncong 130 mm, tinggi sirip punggung (dorsal) 10 mm, panjang dasar sirip punggung 20 mm, panjang sirip dada (pectoral) 54 mm, panjang sirip perut (ventral) 27 mm, panjang sirip dubur (anal) 13 mm, dan diameter mata 14 mm (Riki, 2010).
Ikan Tongkol terdapat di seluruh perairan hangat Indo-Pasifik barat, termasuk laut kepulauan dan laut nusantara. Hidup di perairan epipelagik, merupakan spesies neuritik yang mendiami perairan dengan kisaran suhu antara 18-29°C.Ikan ini cenderung membentuk kelompok (school) multi spesies berdasarkan ukuran antara lain Thunnus albaceres kecil, Katsuwanus pelamis, Auxis sp. Terdiri dari 100-5000 individu. Puncak musim pemijahan bervariasi tergantung pada daerah seperti perairan Filipina bulan Maret-Mei, Perairan Afrika Timur pada pertengahan musim barat daya sampai permulaan musim-musim tenggara atau Januari-Juli dan di Perairan Indonesia diperkirakan pada bulan Agustus-Oktober. Ikan ini merupakan predator yang rakus memakan barbagai ikan kecil,udang dan cepalopoda sebaliknya juga memakan mangsa dari hiu dan marlin. Panjang baku maximum 100 cm dengan berat 13,6 kg umumnya 60 cm, di Samudera Hindia usia 3 tahun panjang baku 50-65 cm. Ikan Tongkol  merupakan kingdom Animalia, phylum Chordata, class Pisces, subclasis Teleostei, ordo Percomorphi, familia Scamberidae, genus Euthynnus dan species Euthynnus sp. (Riki, 2010).
Kunci identifikasi dari Ikan tongkol adalah :
1A.   Rangkaian terdiri dari dari tulang besar, bertutup insang (subclasis Teleostei).
2A.   Sirip punggung dan punggung tidak panjang (ordo Percomorphi).
4A.   Badan berbentuk seutu V.1.5 jari-jari  lemah sirip ekor bercabang padapangkalnya, sirip kecil dibelakang punggung sirip dubur ada (famillia Euthynnus).
20.    Species Euthynnus sp.







III.             KESIMPULAN
Kesimpulan dari praktikum identifikasi ikan adalah sebagai berikut:
1.      Ikan Kakap Merah merupakan kingdom Animalia, phylum Chordata, class Pisces, subclasis Teleostei, ordo Perchomorphi, familia Lutjanidae, genus Lutjanus, dan species Lutjanus niger.
2.      Ikan Nilem  merupakan kingdom Animalia, phylum Chordata, class Pisces, subclasis Teleostei, ordo Ostariophusi, familia Cyprinidae, genus Osteochilus, dan species Osteochilus hasselti.
3.      Ikan Bandeng  merupakan kingdom Animalia, phylum Chordata, class Pisces, subclasis Teleostei, ordo Malacopterygii, familia Chanidae, genus Chanos, dan species Chanos chanos.
4.      Ikan Tawes  merupakan kingdom Animalia, phylum Chordata, class Pisces, subclasis Teleostei, ordo Ostariophysi, familia Cyprinidae, genus Puntius dan species Puntius sp.
5.      Ikan Tongkol  merupakan kingdom Animalia, phylum Chordata, class Pisces, subclasis Teleostei, ordo Percomorphi, familia Scamberidae, genus Euthynnus dan species Euthynnus sp.









IV.             DAFTAR PUSTAKA
Allen Gerald. Roger Steene. Paul Humman. Ned Deloach. 2003. Reef Fish Identificatiin. Perth : New world Publication, Inc.
Direktorat Jenderal Perikanan. 1983. Hasil Ealuasi Potensi Sumberdaya Hayati Perikanan di Perairan Indonesia dan Perairan ZEE Indonesia.
Direktorat Sumberdaya Hayati. Balai Penelitian Perikanan Laut. Departemen Pertanian: Jakarta.
Djamal R. dan S. Marzuki. 1992. Analisis Usaha Penangkapan Kakap Merah dan Kerapu dengan Pancing Prawe, Jaring Nylon, Pancing Ulur dan Bubu. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Balai Penelitian Perikanan Laut.Balitbang Pertanian. Departemen Pertanian: Jakarta.
Juan. 2011. Ikan Kakap Merah Lutjanus Calcater. http://juandiriki.blogspot.com. Diakses tanggal 28 April 2013
Novianto, Bagus Rizki. 2012. Mengenal Ikan Bandeng. http://skp.unair.ac.id. Diakses tanggal 28 April 2013
Pjauhar. 2012. Morfologi ikan bandeng. http://pjauhar.blog.com. Diakses tanggal 28 April 2013
Riki. 2010. Laporan Pisces. http://rykibio046.blogspot.com. Diakses tanggal 15 Mei 2013
Wadud, Abdul. 2012. Puntius Javanicus. http://aw-nashruddin.blogspot.com. Diakse tanggal       15 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar